Kamis, 10 Maret 2011

Sinta, aku suka Jojo. Bukan Kamu... ^^

Sekarang ini, sedang heboh-hebohnya video keong racun. Apalagi videonya Sinta-Jojo, duh… Sampai-sampai di sekolahku, siswa yang tidak memiliki video itu di handphonenya akan dicoret dari daftar anak gaul SMA Cahaya. Beberapa orang sudah mengalami PHSG (Pecat Harian Siswa Gaul), mereka yang tidak terima segera menghadap pimpinan PSG (Persatuan Siswa Gaul) Cahaya untuk meminta kompensasi. Mereka memberikan berbagai alasan yang menyebabkan mereka harus di pertahankan di PSG Cahaya. Mereka pernah menjadi trendsetter fashion lah, mereka yang menciptakan lambang PSG lah, mereka yang mengedarkan video itu tapi tidak sengaja terhapus, sampai alasan yang tidak masuk akal seperti terlalu sibuk mengerjakan PR. Padahal setahuku, di tengah semester begini, PR mulai berkurang. Paling banter 3 PR seminggu. Tidak seperti hari-hari pertama masuk yang 1 hari ada 4 PR.
Seapes-apesnya mereka yang terkena PHSG, aku lebih apes. Kenapa? Apa karena aku juga dikeluarkan dari PSG? Ih.. sorry la yaw. Aku nggak akan mau masuk persatuan begitu. Aku apes karena namaku Sinta, seperti pelaku video itu. Dengan nama yang sama seperti itu, aku basah oleh hujan ejekan di sekolah. Aku dikatakan kecentilan lah (amit-amit), dikatakan nggak punya kerjaan, dikatakan lebay lah bahkan aku diejek kalau aku seperti keong. Hanya sabar, sabar dan sabar menahan ejekan dari anak satu SMA yang bisa aku lakukan. Yang membuat aku terkenal dari ujung pager belakangnya SMA Cahaya sampai posko satpam yang akan terlihat pertama kali saat kalian datang ke SMA Cahaya. Sinta si Keong Racun. Julukan yang menyakitkan hati.  
“Yas-Yes-Yas-Yes!!” aku menari-nari gembira di kamar. Tak perlu melepaskan seragam sekolah terlebih dahulu. Kalian pasti bingung, padahal baru tadi aku mengungkapkan kekesalanku pada kalian karena ejekan ‘kronis’ yang melekat di diriku. Okay… Ejekan itu belum hilang. Tapi, cupid sepertinya telah menuliskan namaku di daftar penerima cintanya. Cupid? Of course, pasti berhubungan dengan cinta. Cinta sebelah tangan yang tampaknya mulai memancarkan sinar harapan untuk bertranformasi menjadi cinta dua belah tangan. 
Sore ini, 30 menit lagi… 
Dia akan datang ke rumahku. Jadi, aku harus siap-siap. Secepat mungkin! Mandi dengan kembang 7 rupa, ho… tak mungkin. Mandi saja dengan sabun padat berbentuk kotak dengan sensasi harumnya cemara. Kemudian, pakai lotion. Dan terakhir semprotkan parfum. Mantap… Tinggal mengecek makanan untuk doi di kulkas. 

Baru saja aku membuka pintu kulkas, Jojo menghampiriku. Kalian pasti lansung ingat ke video keong racun lagi ya? That’s right. Sinta-Jojo. Jojo datang ke rumahku bersama Tante Vee (baca:Vi). Kata Tante Vee, Jojo di ajak biar nggak kesepian. Alhasil, seisi rumah juga ikut mengejekku. Duo keong racun, kata mereka.  

Eh, Jojo mau minum jus jeruk buat tamu spesialku, “Jojo, ini bukan  bagian kamu! Kamukan sudah aku belikan susu coklat dingin!” hardikku. Dengan wajah yang sedih, Jojo pergi. Dia berbalik dan berjalan pelan-pelan meninggalkan aku. Walaupun semua orang yang melihat Jojo mengatakan dia lucu, tidak begitu denganku. Aku tidak menyukai dia, selucu apapun dia. Karena dia selalu menggangguku dan bertengkar denganku. Entah itu karena rebutan tempat tidur, rebutan makan minum bahkan rebutan benang wol (aku suka merajut). Padahal dia numpang! Tapi nggak tahu malu!! 
Doi datang… 
Rama datang juga. Dengan kaos hijau dan celana panjang coklat dia tampak semakin tampan. Rambutnya sedikit acak-acakan karena dihembus angin selama perjalanan (doi  datang ke sini pakai motor dan benci helm karena biasanya pakai mobil). Rizki Rama Fathoni, pujaan seisi sekolah. Sekarang datang ke rumahku. Buat kencan? O… bisa pingsan aku kalau dia melakukannya. Rama datang kemari karena kami di beri tugas untuk membuat poster dengan tema Global Warming (tugas biologi, yang posternya paling bagus akan di pampang di sepanjang jalan menuju taman kota).  Mungkin ini anugrah dari Tuhan, sehingga aku bisa satu kelompok dengan dia. 
Rama, anak yang cool abis. Ngomong seperlunya. Begitu juga senyum dan tawanya. Hanya diperuntukkan untuk teman laki-lakinya saja. Tapi, prestasinya nggak seperlunya atau nggak hanya cukup untuk naik kelas. Rama adalah atlit basket nasional (setara dengan tubuhnya yang tinggi), guitarist terbaik versi Teen Festival selama 2 tahun terakhir, pemenang lomba menulis puisi cinta se-SMA Cahaya (puisinya buat siswi-siswi SMA Cahaya klepek-klepek), juara MTQ  provinsi (rocker tapi saleh) dan menempati juara umum pertama di sekolah. Dengan segudang prestasinya itu, tentunya seabrek beasiswa masuk ke kantongnya yang sudah tebal. Ya, Rama anak orang kaya. Rumahnya seperti hotel. Ke sekolah bawa mobil Jazz merah. Pokoknya, Rama perfect!!  
Baru 15 menit diskusi kami berjalan dan aku belum puas menatap matanya yang indah itu, Jojo ikut nimbrung. Otomatis, perhatian Rama beralih ke Jojo. Tapi, tak seperti kebanyakan orang. Hanya 10% dari perhatian Rama yang di ambil Jojo yang ‘lucu’. Dan 90% sisanya masih ada disediakan untuk mendengar ocehanku tentang konsep poster. Sesekali, bibirnya tersenyum karena konsepku agak konyol. Tapi, aku menikmatinya. 
Kelompok yang kompak? Kayaknya nggak deh… 
Bosan mendesain poster di rumahku, kami pergi ke taman kota untuk mencari inspirasi. Pemandangannya sangat indah. Apalagi bersama Rama. Sebenarnya, ini merupakan kesempatan PDKT yang bagus . Tapi, kenapa Jojo juga ikut???!! Grrhh. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan kecentilannya. Yang maunya deket sama Rama.  
“Gambar pohon saja,”  
“Nggak, pakai fotonya Jojo aja. Kan mencerminkan makhluk bumi yang perlu dilindungi. Lagipula, Jojo lucu, ya kan Jo?” kata Rama sambil melirik Jojo. Jojo malah terlihat semakin ge-er dan mendekatkan posisinya dengan Rama. Grrrhhh. 
“Nggak. Aku nggak mau!” kataku bersikeras. Terserah Rama menganggap aku childist. Yang penting poster buatan kami tidak memuat foto Jojo. 
Browsing yang penuh cinta… 
Pergi ke taman kota tidak membuahkan hasil apa-apa. Kamipun memutuskan untuk mencari bahan di internet. Kali ini, Jojo tidak ikut. Jadi sekarang adalah kesempatanku untuk mendapatkan hati Rama. Kami berdua pergi ke warnet yang jaraknya 500 meter dari sekolah.  
Hhh… mataku sudah perih menatap layar monitor. 3 jam menelusuri dunia maya tidak memberikan inspirasi. Sedikitpun!! Aku menoleh ke meja sebelah tempat Rama browsing. Mungkin, wajahnya yang tampan bisa menyegarkan mataku. 
“Rama,” panggilku. “Loh? Rama mana?” Oh My God, kemana makhluk ganteng itu pergi. Setega itukah dia pada seorang perempuan? Masa dia pergi ninggalin aku?  
“Jahat!” umpatku. Jadi, ini sifat aslinya. Di luar dia, dia menjelma seperti pangeran. Tapi, dari dalam? Dia seperti orang yang tidak tahu sopan santun. 
“Sin, kamu udah selesai?” suara Rama yang halus terdengar di telingaku.  
“Eh?” aku melihat ke kanan, ke kiri dan ke depan. Tidak ada siapa-siapa. 
“Aku di sini,” suara itu terdengar lagi dan sebuah tangan terjulur ke meja komputer yang sedang aku pakai. Aroma parfum Rama menyebar. Menusuk hidungku. 
Aku menoleh ke belakang. Rama berdiri di sana. Dengan kedua tangan yang diletakkan di meja komputer sehingga terkesan dia tak mengizinkanku pergi.  
Tapi, tak ada yang bisa membuat kekesalanku hilang begitu saja! Aku masih belum bisa melupakan tindakannya yang melanggar sopan santun itu. “Kamu dari mana?” tanyaku. 
“Aku dari kios depan, beli minum. Nih, buat kamu,” katanya kemudian meletakkan minuman dingin di depanku.  
“Makasih. Trus, kamu sudah dapat inspirasi?” selidikku lagi. 
“Sebenarnya sih sudah. Tapi, pas mau di unduh komputernya error. Jadi, aku tinggalin trus pergi beli minuman,” katanya menjelaskan. 
“Aku capek!” keluhku. “Dari tadi, nggak ketemu bahan bagus yang bisa dijadikan inspirasi,” aku melepaskan mouse dari genggaman tanganku. 
“Ngg… kalau tidak salah, tempatnya di sini,” Rama mengambil alih komputer lalu mengetik sebuah alamat website. Kemudian beberapa detik kemudian sebuah blog tentang reboisasi muncul. “Bagus, kan?” 
“Kalau begini sih, masih bagusan yang aku ketemuin,” aku meraih mouse. “Ups! Sorry,”  mouse itu masih digenggam Rama. Dan aku menyentuh tangannya yang halus. Dengan mata yang penuh penyesalan dan kebahagiaan, aku menoleh ke arah Rama.  
“Nggak apa-apa kok,” katanya. Dan dia tersenyum. Manis sekali. Senyuman yang pertama kali kulihat. Tuhan, putar waktu kembali… please… 
Hari terakhir bekerja… 
Okay, poster kami sudah jadi. Kami memutuskan untuk memuat gambar sekelompok perempuan yang berminyak karena di olesi sunblock sebanyak mungkin untuk menghindari sengatan sinar matahari yang semakin mengganas. Kemudian di bawahnya tertulis “SUNBLOCK TIDAK MENYELAMATKAN KITA DARI PANAS MATAHARI, POHONLAH YANG MELAKUKANNYA 
Hari ini, kami mengecek kembali poster yang kami buat. Apakah ada hal yang mesti diperbaiki. Sebenarnya, aku ingin memberikan kritik untuk poster kami ini. Supaya, kerja kelompok ini  bisa terus berjalan dan aku bisa berada terus di samping Rama. Tapi, poster yang kami ini sungguh bagus. Perfecto! Aku tidak bisa mengomentari poster ini. Sungguh bagus dan unik. Alasan apa yang harus kubuat? Karena tidak ada kritikan, kami memutuskan untuk mengumpulkan poster ini. 
Ketika mengantarkan Rama ke gerbang, aku ingin menangis. “Ya, Allah. Kapan ini akan terjadi lagi?” Aku yakin Rama akan bertindak seperti biasa lagi,  tidak akan berbicara apalagi tersenyum. Mungkin, seharusnya aku mengabadikan tindak-tanduk kami berdua ketika sedang menggarap poster itu. Sehingga, aku bisa melihat cowok ganteng itu kapanpun yang aku mau. 
Rama datang lagi, 
“Sinta, boleh nggak nanti sore aku datang ke rumah kamu?” katanya tiba-tiba. Dia menghampiriku yang sedang makan bakso di kantin. Untung saja aku tidak tersedak. 
“Boleh-boleh kok. Tapi ada apa ya?” 
“Nggak ada cuma pengen maen aja. Boleh kan?” 
“Boleh-boleh,” tanpa ragu-ragu aku tidak menolaknya. Aku sempat melihat tatapan iri dari para cewek-cewek. He he he, hari kemenangan Sinta. 
Tak kusangka, Rama datang lagi dan lagi. Walaupun tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu, rambut acak-acakan Rama nyembul di gerbang rumah. Hanya untuk bermain-main. Kami membicarakan banyak hal.  Sangat banyak. Walaupun Jojo sering nimbrung, aku tak ingin bertengkar dengannya. Biarlah. Tapi dalam hati aku segera berdoa agar Tante Vee segera membawa Jojo pulang. 
Mengobrol dengan Rama sangat menyenangkan. Karena aku bisa mendengar desah suara dan wajahnya yang kelewat tampan itu.  Dan aku rasa, harapanku semakin berkembang. Walau demikian, aku tetap belum puas karena Jojo sekarang sudah berani bergelayut manja di lengan Rama. Sepertinya, seleranya sama denganku. Grrh! 
Kepergiannya mengungkap fakta, 
O la la. Poster kami memenangkan lomba tak formal itu. Aku dan Rama menerima honor masing-masing 100.000. Dan kesenangan itu bertambah karena Tante Vee dan Jojo akan pulang ke tempat asal mereka. Rama datang ke rumahku sepulang sekolah ketika mengetahui Jojo akan pulang ke negeri asalnya bersama Tante Vee. Seisi rumah bersedih. Tapi aku, tak ada alasan untuk menangisinya! Aku berbahagia… Okay, Rama memang datang membawa makanan untuk Jojo. Seratus ribu yang diterimanya dibelikan makanan semua. Oh My God!! Tapi, aku yakin ini hanya sebagai kenang-kenangan dari Rama. Semoga… 
Seminggu setelah hari kepergian Jojo, Rama tidak pernah muncul di gerbang rumahku. Biasanya dia selalu datang, paling lama 3 hari sekali. Dengan rasa pede yang tinggi, aku bertanya pada Rama, “Ram, kamu kok nggak main lagi ke rumahku?”  
“Habisnya, Jojo sudah pergi,” katanya singkat, padat dan jelas! 
“Ja… jadi kamu… ah sudahlah!” aku segera berbalik dan meninggalkan Rama yang sedang kongkow bersama teman-temannya. Bayangannya yang memantul dari kaca di ruang guru memperlihatkan cowok perfect itu garuk-garuk kepala (pasti karena bingung), lalu mengangkat bahunya (pasti mau bilang EGP melihat tingkahku yang aneh) dan tertawa kemudian pergi (aku yakin kejadian tadi tidak akan berbekas di hatinya, sedikitpun!!!) .Grrh…  Jojo!!! Semuanya karena kamu!! Kucing putih itu menyebabkan kepergiaan Rama. Kenapa semua orang sukanya sama Jojo? Tidakkah mereka berpikir kalau aku juga pantas untuk disukai dan membutuhkan kasih sayang? Tapi, tunggu. Kalau Jojo pergi, Rama pergi. Okay, mau tidak mau aku mengakui fungsimu sekarang. Kucing seperti dirimu aku butuhkan untuk menggaet Rama. Jo, cepat balik lagi ke sini!! Aku butuh kamu!!

0 komentar:

Posting Komentar